Kamis, 07 Maret 2013

Lembar konsep : PENGANTAR ASAS PERANCANGAN ARSITEKTUR



Seperti halnya manusia yang lahir di berbagai tempat di muka bumi, arsitektur lahir di tiap jengkal muka bumi ini. Perwajahan dan perkembangan suatu arsitektur erat hubungannya dengan dimana ia ‘dilahirkan’. Alam sekitar, budaya, dan kebiasaan masyarakat sekitar menjadi beberapa faktor penentu bagaimana rupa suatu arsitektur.

 Arsitektur mempengaruhi lingkungan, lingkungan mempengaruhi arsitektur.  Arsitektur bisa menjadi harmonis dengan alam. Arsitektur juga bisa menjadi bagian dari alam meski dengan mengkontraskan dirinya. Namun,  arsitektur juga berhak mengabaikan alam dan tempatnya ‘dilahirkan’. Alam boleh saja mempengaruhi suatu arsitektur, tapi tidak selalu arsitektur mengacuhkan alam. Yang dimaksud mengabaikan yakni tidak menjadikan hal tersebut sebagai komponen perancangan.[1]
 
Terdengar egois memang. Namun, begitulah arsitektur. Di sanalah ego sang arsitek mulai bermain dan mendominasi. Seorang arsitek berhak menentukan bagaimana ia mendandani karya arsitekturnya. Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan suatu karya bukan semata karena estetikanya saja. Namun, perlu dipertimbangkan aspek etika dan logika. Salah satunya berkenaan dengan kenyamanan penghuni dan pengaruh arsitektur itu terhadap lingkungan sekitarnya.  Sehingga, diperlukan adanya adaptasi antara lingkungan dan arsitektur.

Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam adaptasinya yakni iklim. Iklim merupakan perubahan kondisi cuaca yang relatif tetap dan secara berkala karena pengaruh perputaran bumi. Iklim ditentukan oleh letak geografis.[2]
 
Adapun iklim dibagi menjadi :
1.       Iklim tropis (memiliki 2 musim)
2.       Iklim subtropis (memiliki 4 musim)
3.       Iklim sedang (memiliki 4 musim)
4.       Iklim dingin (memiliki 4 musim)

2 MUSIM vs 4 MUSIM
Secara garis besar, arsitektur dapat dikelompokkan menjadi arsitektur 2 musim dan 4 musim. Hal ini utamanya dibedakan menurut kedudukan matahari. [3]

Di daerah 2 musim, suhu dingin dan panasnya tidak berpotensi mematikan. Suhu terendahnya saja hanya mencapai 10 derajat celcius. Sehingga, potensi matahari yang dibutuhkan hanya terang dan bayangannya saja. Namun, terang ini dibutuhkan untuk menerangi kolong, halaman, dan teras, bukan untuk bagian dalam bangunan. Proporsi siang dan malam relative seimbang. Perlu diketahui bahwa masyarakat 2 musim cenderung beraktivitas di luar ruangan. Sehingga,  hal yang paling diperlukan yakni kesejukan angin. Diperlukan banyak bukaan, ventilasi, dan ruang udara dari arsitekturnya. Elemen-elemen bangunan yang diperlukan mencakup atap, geladak, dan kerei. Hal ini menandakan bahwa arsitektur di daerah 2 musim dapat dianalogikan seperti topi atau payung yang hanya berfungsi sebagai naungan. Bila hari panas, manusia tidak terpapar terik matahari, dan bila hujan, manusia tidak terkena rintikan air hujan. Selain itu, arsitektur berfungsi sebagai pelindung dari serangga, seperti nyamuk, lalat, dll.

Sedangkan di daerah 4 musim, suhu dingin dan panasnya berpotensi mematikan. Suhu terendahnya bisa mencapai -60 derajat celcius. Sedangkan di daerah panas, seperti gurun pasir, kelembabannya bernilai nol, sehingga tubuh dengan cepat mengalami penguapan. Hal ini dapat mengakibatkan dehidrasi. Potensi matahari dibutuhkan untuk menerangi dan menghangatkan ruangan. Elemen-elemen bangunan yang diperlukan yakni pondasi, lantai, dinding, dan atap. Bangunan 4 musim memang dibuat dengan mengkesampingkan unsur tetangga, hingga berkesan terisolir dan tertutup rapat. Hal ini menjadikan arsitektur sebagai hal yang begitu esensialnya bagi penghuni. Sehingga, arsitektur di daerah 4 musim dapat dianalogikan seperti pakaian kedua yang melindungi tubuh dari keganasan suhu. Hal ini memunculkan suatu paradigma bahwa “rumahku adalah keabadian yang seindah-indahnya, sekuat-kuatnya, sefungsional-fungsionalnya.”[4]

ARSITEKTUR MENURUT LE CORBUSIER

“Arsitektur tidak lebih dari permainan terang dan gelap, serta sinar dan bayangan.”
(Charles Edouard Jeanneret “Le Corbusier”)[5]

Pembeda dasar adanya daerah 2 musim dengan 4 musim yakni kedudukan bumi terhadap matahari. Lintasan revolusi bumi hanya berkisar antara koordinat 23,5 derajat LU (Lintang Utara) sampai dengan 23,5 derajat LS (Lintang Selatan). Sehingga, pergantian musim terjadi karena adanya perubahan posisi matahari.

Dalam kasus daerah 4 musim, tidak akan pernah sisi utara bangunan mendapatkan terang matahari bila bangunan berada di atas koordinat 23,5 derajat LU. Di koordinat ini, sisi selatan bangunan akan selalu mendapatkan terang. Begitu pula sebaliknya jika bangunan terletak pada koordinat 23,5 derajat LS). Sisi selatan bangunan akan selalu gelap, sedangkan sisi utara akan mendapatkan terang.

Dalam kasus daerah 2 musim, matahari senantiasa memberikan terangnya baik di sisi utara-selatan, maupun timur-barat.

Kesimpulannya, daerah 2 musim memiliki 4 sisi yang terkena bayangan dan terang matahari. 4 sisi itu meliputi utara, timur, selatan, barat. Sedangkan pada daerah 4 musim hanya memiliki 3 sisi yang terkena bayangan dan terang matahari. 3 sisi itu meliputi utara/selatan, timur, barat.

VITRUVIUS vs MANGUNWIJAYA

A.      VITRUVIUS
Vitruvius,sebagai salah satu tokoh arsitektur 4 musim, mengemukakan bahwa arsitektur memiliki 3 unsur, yakni Firmitas, Utilitas, dan Venustas.

B.      MANGUNWIJAYA
Mangunwijaya, sebagai salah satu tokoh arsitektur 2 musim, mengemukakan bahwa arsitektur memiliki 2 unsur, yakni Citra dan Guna. Hal ini dirasa cukup mengingat daerah 2 musim memiliki potensi gempa, sehingga kekokohan bangunan bukan hal yang esensial dalam arsitektur 2 musim.[6] Cukup bagaimana bangunan itu bisa “menari bersama gempa.”[7]


[1] Kuliah Asas Perancangan Arsitektur oleh Prof. Dr. Ir. Josef P, M.T. tanggal 25 September 2012
[2] Kuliah AsasPerancangan Arsitektur oleh Nur Endah Nuffida, S.T., M.T. tanggal 2 Oktober 2012
[3] Kuliah Arsitektur Barat dan Asia oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.T. tanggal 11 Sepetmber 2012
[4] Kuliah Arsitektur Barat dan Asia oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.T. tanggal 18 September 2012.
[5] Kuliah Arsitektur Barat dan Asia oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.T. tanggal 11 September 2012
[6] Kuliah Asas Perancangan Arsitektur oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.T. tanggal 25 September 2012.
[7] Kuliah Arsitektur Barat dan Asia oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.T. tanggal 11 September 2012

#Kuliah ASAS PERANCANGAN
oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.Arch
September 2012

Senin, 04 Maret 2013

Lembar konsep : PENGANTAR ARSITEKTUR NUSANTARA


-      Arsitektur  --> manusia dengan lingkungan  --> membentuk suatu relasi.

“Tidak ada arsitektur yang tidak berada di suatu tempat di muka bumi ini.” Petak di muka bumi tidak hanya daratan, namun juga lautan. Petak bumi harus dipertimbangkan dalam suatu arsitektur. Pemahaman mengenai Arsitektur Indonesia muncul karena arsitektur berada di petak bumi. Selain itu, sekolah arsitektur di Indonesia menganut paham internasionalisme/universalisme yang tidak menempatkan petak bumi sebagai kepastian.
 Indonesia memiliki perairan yang lebih luas dibanding daratannya. Berbeda dengan daerah Eropa dan Amerika yang memiliki luas daratan yang lebih luas dari perairannya. Oleh karena itu, secara logika bangunan-bangunan besar lebih cocok dibangun di Amerika, bukan di Indonesia. Karakter bangunan yang cocok dibangun di Indonesia yakni bangunan tinggi, contohnya bangunan rumah adat.

-          Indonesia merupakan bangsa bahari --> berkelana.
 
Lautan dapat menjadi pemisah, maupun penghubung antar pulau, khususnya di Indonesia. Hal tersebut tergantung dari bagaimana kita memandang peran sebuah lautan. Pandangan mengenai lautan sebagai pemisah pulau memiliki konsekuensi dimana tiap pulau tidak saling mengenal. Hal ini menyebabkan etnik demi etnik bersifat eksklusif. Sedangkan pandangan mengenai lautan sebagai penghubung antar pulau memberikan konsekuesi pemahaman bangsa Indonesia secara utuh dimana tidak adanya suku yang terisolir dan mengisolir diri sendiri.
Perbedaan arsitektur di nusantara (berbagai macam etnik) dimaksudkan sebagai identitas wilayah yang menjadi penanda wilayah. Peranannya sebagai penanda wilayah tak ubahnya sebuah “papan nama” penunjuk wilayah. Kesan ini dapat dirasakan saat melihat sesuatu tampilan bangunan yang berbeda di tiap wilayah. Dengan adanya perbedaan arsitektur dan etniknya, suatu etnik dapat mengenali etnik lainnya dengan mudah.
Sebuah arsitektur harus berada di suatu tempat tertentu. Meskipun berbagai rumah adat ada di Indonesia, namun semua yang dimiliki merupakan bukti ke-bhinneka-ika-an Arsitektur Indonesia. Karakteristik rumah adat nusantara yang khas menunjukkan adanya benang merah arsitektur yang ada di Indonesia.
Dalam ke-Indonesia-an, prinsip berpikirnya yakni bhinneka tunggal ika. Jadi, tiap karya arsitektur anak bangsa adalah Arsiektur Indonesia.[1]

-          Keterangan konsekuensi iklim : 4 musim (musim dingin yang membunuh) dan
2 iklim (panas, gerah, silau, hujan)

Iklim 2 musim memungkinkan adanya suatu harmoni antara iklim dengan alam tanpa harus menghindari atau melawan iklim tersebut. Sedangkan pada iklim 4 musim, terjadi suatu perlawanan untuk menghindari iklim agar dapat bertahan hidup.

Tabel perbandingan karakteristik arsitektur 4 musim dan 2 musim :

4 MUSIM
2 MUSIM
-          Winter
-          Dry (hot)
-          Isolated from nature
-          Berselimut alam
-          Interiority
-          Exteriority
-          Protection
-          Pernaungan
-          Bangunan merupakan tempat berlindung
-          Bangunan merupakan tempat pernaungan
-          Denah >> Dinding >> Atap
-          Atap >>  Luas tempat bernaung


-          Memanfaatkan angin dari samping dan bawah bangunan (contoh : Rumah Panggung)
-          Memanfaatkan daerah bayangan
-          Dinding dibuat berlubang, dibuat bukan untuk melindungi namun untuk menyaring silau. Selain itu juga berfungsi sebagai “filter” kecepatan angin.
-          Analogi bangunan : baju
-          Analogi bangunan : payung, kaca mata hitam
-          Komponen bangunan yang dibutuhkan :
Lantai, dinding, atap
-          Komponen bangunan yang dibutuhkan :
Geladak, Atap

Tipologi Indische Huis :
1.       Ada angin-angin di atas dan di bawah.
2.       Meski merupakan bangunan batu, namun
tetap memperhatikan tipologi alam Indonesia.
  
-          Bagaimana dengan banjir di masa lalu? Apa dampaknya terhadap bangunan yang ada?        

Jawab : Jaman dahulu tidak ada banjir. Hal ini dikarenakan tidak adanya pembabatan hutan. Selain itu, tidak akan diperkenankan adanya pembangunan rumah di samping sungai, kecuali dengan batas tertentu. Sedangkan untuk anatomi bangunan, dibangunlah geladak sebagai antisipasi terhadap “becek”.

-          Pemanfaatan ruang berdasarkan waktu --> efisiensi fungsi dan luas ruang.

Hal ini merupakan suatu prinsip memanfaatkan ruang bayangan pada rumah adat di daerah yang beriklim 2 musim.

-          Kenyamanan tubuh tidak sama dengan kenyamanan ruangan.

Oleh karena itu, tipikal ruangan di 2 musim yakni ruangan yang gelap karena tidak dipakai beraktivitas kecuali untuk tidur. Selain pada malam hari, segala aktivitas dilakukan di luar ruangan. Ruangan hanya dipakai untuk menyimpan bahan makanan dan benda pusaka, serta untuk kamar tidur bagi para wanita (lebih diutamakan dibanding pria).
Adanya perapian di rumah adat berfungsi untuk menghangatkan di malam hari. Namun, yang utama yakni asap pembakaran difungsikan untuk mengawetkan bahan (material) rumah adat.
-          Arsitektur Indonesia silam = Arsitektur Nusantara

Ada juga daerah yang memiliki perbedaan bahasa namun sama dalam arsitekturnya. Contohnya yaitu daerah Sumba yang memiliki minimal 9 bahasa daerah, namun hanya memiliki 1 arsitektur yakni Arsitektur Uma.
Dulu, konsep hunian adalah “Rumah dalam Kebun” dimana pepohonan berfungsi untuk mengurangi kecepatan angin dan filtrasi silau. Sedangkan untuk antisipasi kelembaban dan lumpur, dibuatlah konsep rumah panggung.
Nusantara merupakan daerah yang akrab gempa. Adapun solusi adaptatif yang dilakukan pada bangunan adat adalah :
1.       Tiang di tanam                            
2.       Tiang ditumpang di atas umpak
Prinsipnya, bangunan tidak diikat dengan tanah, melainkan hanya ditumpang pada tiang. Sedangkan pada arsitektur 4 musim terdapat pondasi untuk mengurangi dingin yang ada. Pondasi berperan mengikat hangat agar dinginnya tanah tidak langsung menyentuh lantai. Bahkan, lantai juga akan dilapisi permadani untuk menambah penghangatan.


***


“Pendayagunaan maksimal dari iklim adalah: pertama menampung secara maksimal
bayangan (payung); dan kedua mengoptimalkan angin; sedang yang ketiga menari bersama gempa.”
-Prof. Dr. Ir. Josef P., M.Arch-


[1] Sumber : Kuliah Arsitektur Barat & Asia ; Kuliah Asas Perancangan oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M. Arch


Kuliah ARSITEKTUR INDONESIA
oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.Arch
tanggal 18 Februari 2013