28
Oktober 2015, Hari Sumpah Pemuda.
3
Oktober 2015, Hari Arsitektur Sedunia.
Semoga
makin jaya pemuda,
semoga
makin jaya arsitek,
semoga
makin jaya ‘pemuda arsitek’ alias fresh
graduate arsitektur (sepertiku).
Sebagai
‘pemuda arsitek’, sering aku berpikir,
“Apa
alat ukur kejayaan seorang arsitek?”
Mungkin
bukan karya yang terkenal,
juga
bukan pundi uang yang membesar.
***
28
Oktober 2015
Sejak
46 hari yang lalu, aku resmi diwisuda sebagai sarjana arsitektur. Sempat ngeri saat membayangkan berapa ribu di
tahun 2015 ini pemuda Indonesia yang lulus dari pendidikan arsitektur. Meski
begitu, hati tidak bisa berbohong. Bangga juga sih! Menjadi sarjana arsitektur adalah salah satu pilihan luar
biasa dalam hidupku.
“Kreatif,
dinamis, dan pembawa perubahan peradaban negeri. Itulah gambaran kalian kelak,”
kata para dosen semasa aku masih berstatus mahasiswa.
Aku
terkesima.
Satu
kata.
“Keren!”
Namun,
di balik ‘keren’ tentu ada pikulan moral
tersendiri. Makin terasa sejak mengerjakan Tugas Akhir. Aku memilih topik
mengenai arsitektur lingkungan. Arsitektur, manusia, dan lingkungan. Dalam
pandangku, ketiganya merupakan sumber daya yang akan selalu saling bergantung
dan mempengaruhi. Arsitektur merupakan benda yang dibuat oleh manusia. Ia
dibuat untuk menunjang kehidupan dalam lingkungannya, sehingga diharapkan
terjadi timbal balik yang saling menguntungkan.
***
11
November 2014
Salah
satu hal luar biasa dalam hidupku! Pada hari ini, Profesor Ir. Johan Silas
menjadi dosen tamu kuliah Etika Lingkungan. Sejak masa putih abu-abu, aku mengagumi
beliau. Kiprahnya dalam arsitektur begitu luar biasa. Kini, aku dapat mendengarnya secara langsung. Betapa beruntungnya!
“Sebagai
lingkung bina, arsitektur bergantung pada sumber daya alam,” kata Prof. Silas
mengawali kuliahnya.
Dalam
id.wikipedia.org dijelaskan bahwa lingkung bina (lingkungan terbangun) adalah
suatu lingkungan yang ditandai dominasi struktur buatan manusia.
“Adapun
sumber daya alam memiliki keterbatasan untuk menopang pertumbuhan jumlah
populasi manusia. Selain itu, berbagai macam masalah muncul akibat hubungan
antara manusia dengan alam, seiring bumi yang semakin menua. Perubahan iklim, bencana
alam, hingga krisis lingkungan adalah sekelumit dari permasalahan peradaban.”
“Bahkan
tanpa melakukan apapun, lingkungan akan mengalami degradasi kualitas dan
kuantitas," lanjut beliau.
Lalu, bagaimana dengan pembangunan arsitektur?
Tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan arsitektur sekecil apapun akan berdampak
pada perubahan lingkungan. Pembangunan tidak saja menghasilkan manfaat, tetapi
juga risiko yang harus diperhitungkan secara berimbang bagi lingkungan dan
makhluk hidup. Sebagai contoh, ketika meletakkan bangunan di lahan yang semula
kosong, tentu akan mempengaruhi lingkungan, bahkan kelestariannya. Mulai dari
kondisi fisik tanah, air, udara, sampai infrastruktur yang disediakan. Oleh
karena itu, menjaga kelestarian lingkungan sepatutnya menjadi tanggung jawab
bersama. Di sinilah arsitek memegang peranan penting.
“Arsitek
memiliki potensi mengubah bentang alam. Penting baginya memiliki kesadaran
untuk dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan demi kelestariannya.
Arsitek perlu memiliki pemikiran ‘gaya hidup hijau’. Namun, perlu digarisbawahi
bahwa gaya hidup hijau bukanlah solusi. Itu pilihan!”
Lantas
beliau melepar pertanyaan pada mahasiswa, “Pernahkah saudara memerhatikan
dampak pembangunan salah satu kawasan perumahan di Surabaya Barat? Awalnya, sebagian
besar wilayah Surabaya Barat merupakan daerah bernilai jual paling rendah
se-Surabaya dikarenakan kualitas lingkungannya. ‘Tidak berharga’. Segalanya berubah saat kawasan ini dirancang sedemikian rupa menjadi kawasan perumahan yang bersih, hijau, dan modern."
Seketika kelas menjadi sepi. Semua mahasiswa sibuk berpikir, merenung. Ya! Sungguh betapa dahsyatnya kekuatan sebuah desain. Tanah yang semula tak berharga, kini menjadi harta. Lingkungan yang semula gersang, kini menjadi asri. Bahkan perumahan yang disebutkan memiliki sistem pengolahan air bersih berkualitas baik, meski Surabaya Barat rata-rata berair payau.
"Ini merupakan bukti bahwa lingkungan yang rusak, bahkan dianggap tidak berharga, mampu dijadikan berharga melalui
desain,” kata Prof. Silas mengakhiri kuliah hari ini.
***
28
Oktober 2015
Kelestarian
lingkungan dan sumber dayanya (termasuk air) ternyata dapat diwujudkan manakala
arsitek sadar lingkungan. Sudah sepatutnya ia memikirkan bagaimana merancang suatu
lingkung bina yang memenuhi kebutuhan hidup masa kini tanpa mengorbankan
kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan
menerapkannya, arsitek tidak hanya memenuhi tanggung jawab keprofesiannya,
namun juga menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama bertanggung jawab melestarikan lingkungan
dan sumber dayanya. Di situlah letak ukur kejayaan seorang arsitek!
Ditulis berdasarkan kuliah Etika
Lingkungan (Environmental
Ethics)
oleh Prof. Ir. Johan Silas
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
Tanggal 11 November 2014