Kamis, 18 Agustus 2016

Legenda : MERGER, AKUISISI, ATAU HOLDING?

Isu tentang holding BUMN sedang hangat-hangatnya. Hampir setiap hari, hal itu tidak luput dari pembahasan media maupun pembicaraan di kantorku. Sebagai salah satu BUMN, Perumnas direncanakan akan mengalami holding, khususnya untuk holding perusahaan di bidang perumahan. Pada dasarnya, aku tidak mengetahui secara pasti apa itu holding company. Di hari terakhirku belajar di akuntansi, aku coba menanyakan hal tersebut pada seniorku. Beliau-beliau kemudian menjelaskan begini :

Jika  A + B = B  ,  itu berarti "akuisisi"
Jika  A + B = C  ,  itu berarti "merger"
Jika  A menaungi {A + B + C + ........}  ,  itu berarti "holding"

Kira-kira seperti itulah kira-kira ilustrasinya. Nah, kalau secara istilah di wikipedia seperti ini :

Akuisisi : pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor (pengambilalihan)

Merger : penggabungan (difusi) dua perseroan dengan salah satu diantaranya tetap berdiri dengan nama perseroannya, sementara yang lain lenyap dengan segala nama dan kekayaannya dimasukkan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut.

Holding : kerja sama antara beberapa perusahaan dengan salah satu perusahaan bertujuan untuk memiliki saham dari perusahaan lain dan bisa mengatur perusahaan lain tersebut.

*****



Rabu, 29 Juni 2016

Legenda : KONTRAK KONSRUKSI

Kontrak konstruksi dibuat berdasarkan BoQ (Bill of Quantity) yang kemudian dikalikan dengan harga satuan menjadi RAB (Rencana Anggaran Biaya). Terdapat 2 macam kontrak konstruksi, yakni :

1. Kontrak Lumpsum (Ls)
Hanya bisa diterapkan apabila ada perencanaan yang telah benar-benar selesai, jelas, dan estimasi akurat. Adapun RAB tidak dijabarkan dalam buku kontrak, hanya sebagai pedoman untuk menentukan harga global. Penerima pekerjaan harus menyelesaikan pekerjaan berdasarkan harga secara global bagaimanapun caranya, sehingga tidak boleh ada penambahan/pengurangan pekerjaan (P3 = Perintah Perubahan Pekerjaan). Sebagai kontrol kualitas, spesifikasi material (spek) benar-benar harus jelas dan diperhatikan.

2. Kontrak Unit Price (Kontrak Harga Satuan)
Biasanya diterapkan untuk pekerjaan-pekerjaan konstruksi yang belum jelas gambarnya, seperti pekerjaan jalan, gorong-gorong, strauss, dan lain-lain (sulit diestimasi sebelum proyek dimulai). Pemilik proyek tidak bisa mengetahui secara pasti berapa biaya total proyek pada akhirnya. Adapun RAB dijabarkan dalam buku kontrak. Kontrak ini dibuat berdasarkan volume, sehingga  memungkinkan adanya penambahan/pengurangan pekerjaan (P3). Sebagai kontrol kualitas, digunakanlah spek dan volume.

Senin, 04 Januari 2016

Legenda : KOMPOSISI ADUKAN SEMEN

30 Desember 2015
Hari ini, kami tim fantastic four mendapat mandat untuk mengoordinir tiap kontraktor membuat sampel adukan semen :
COR (semen : pasir : koral)
1 : 2 : 3
1 : 3 : 5
SPESI (semen : pasir)
1 : 3  --> Trasram
1 : 5
Ternyata selain dari perbedaan warna dan tekstur, keempatnya juga memiliki perbedaan di bau. Namun, ada salah satu merk semen yang baunya sangat kuat, sehingga adukan keempatnya hampir tidak bisa dibedakan baunya. Sebenarnya, apapun merk semennya tidak masalah asalkan sesuai spek SNI.
Selain perbedaan semen, jenis pasir juga mempengaruhi hasil, lho!

Rabu, 28 Oktober 2015

Lembar konsep : PETUAH MAHAGURU DEMI LESTARINYA LINGKUNGANKU



28 Oktober 2015, Hari Sumpah Pemuda.
3 Oktober 2015, Hari Arsitektur Sedunia.

Semoga makin jaya pemuda,
semoga makin jaya arsitek,
semoga makin jaya ‘pemuda arsitek’ alias fresh graduate arsitektur (sepertiku).

Sebagai ‘pemuda arsitek’, sering aku berpikir,
“Apa alat ukur kejayaan seorang arsitek?”
Mungkin bukan karya yang terkenal,
juga bukan pundi uang yang membesar.


***

28 Oktober 2015
Sejak 46 hari yang lalu, aku resmi diwisuda sebagai sarjana arsitektur. Sempat ngeri saat membayangkan berapa ribu di tahun 2015 ini pemuda Indonesia yang lulus dari pendidikan arsitektur. Meski begitu, hati tidak bisa berbohong. Bangga juga sih! Menjadi sarjana arsitektur adalah salah satu pilihan luar biasa dalam hidupku.

“Kreatif, dinamis, dan pembawa perubahan peradaban negeri. Itulah gambaran kalian kelak,” kata para dosen semasa aku masih berstatus mahasiswa.

Aku terkesima.
Satu kata.
Keren!”

Namun, di balik ‘keren’ tentu ada pikulan moral tersendiri. Makin terasa sejak mengerjakan Tugas Akhir. Aku memilih topik mengenai arsitektur lingkungan. Arsitektur, manusia, dan lingkungan. Dalam pandangku, ketiganya merupakan sumber daya yang akan selalu saling bergantung dan mempengaruhi. Arsitektur merupakan benda yang dibuat oleh manusia. Ia dibuat untuk menunjang kehidupan dalam lingkungannya, sehingga diharapkan terjadi timbal balik yang saling menguntungkan.


***

11 November 2014
Salah satu hal luar biasa dalam hidupku! Pada hari ini, Profesor Ir. Johan Silas menjadi dosen tamu kuliah Etika Lingkungan. Sejak masa putih abu-abu, aku mengagumi beliau. Kiprahnya dalam arsitektur begitu luar biasa. Kini, aku dapat mendengarnya secara langsung. Betapa beruntungnya!




        “Sebagai lingkung bina, arsitektur bergantung pada sumber daya alam,” kata Prof. Silas mengawali kuliahnya.

Dalam id.wikipedia.org dijelaskan bahwa lingkung bina (lingkungan terbangun) adalah suatu lingkungan yang ditandai dominasi struktur buatan manusia.

“Adapun sumber daya alam memiliki keterbatasan untuk menopang pertumbuhan jumlah populasi manusia. Selain itu, berbagai macam masalah muncul akibat hubungan antara manusia dengan alam, seiring bumi yang semakin menua. Perubahan iklim, bencana alam, hingga krisis lingkungan adalah sekelumit dari permasalahan peradaban.”

“Bahkan tanpa melakukan apapun, lingkungan akan mengalami degradasi kualitas dan kuantitas," lanjut beliau.

 Lalu, bagaimana dengan pembangunan arsitektur? Tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan arsitektur sekecil apapun akan berdampak pada perubahan lingkungan. Pembangunan tidak saja menghasilkan manfaat, tetapi juga risiko yang harus diperhitungkan secara berimbang bagi lingkungan dan makhluk hidup. Sebagai contoh, ketika meletakkan bangunan di lahan yang semula kosong, tentu akan mempengaruhi lingkungan, bahkan kelestariannya. Mulai dari kondisi fisik tanah, air, udara, sampai infrastruktur yang disediakan. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan sepatutnya menjadi tanggung jawab bersama. Di sinilah arsitek memegang peranan penting.

“Arsitek memiliki potensi mengubah bentang alam. Penting baginya memiliki kesadaran untuk dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan demi kelestariannya. Arsitek perlu memiliki pemikiran ‘gaya hidup hijau’. Namun, perlu digarisbawahi bahwa gaya hidup hijau bukanlah solusi. Itu pilihan!”

Lantas beliau melepar pertanyaan pada mahasiswa, “Pernahkah saudara memerhatikan dampak pembangunan salah satu kawasan perumahan di Surabaya Barat? Awalnya, sebagian besar wilayah Surabaya Barat merupakan daerah bernilai jual paling rendah se-Surabaya dikarenakan kualitas lingkungannya. ‘Tidak berharga’. Segalanya berubah saat kawasan ini dirancang sedemikian rupa menjadi kawasan perumahan yang bersih, hijau, dan modern." 

Seketika kelas menjadi sepi. Semua mahasiswa sibuk berpikir, merenung. Ya! Sungguh betapa dahsyatnya kekuatan sebuah desain. Tanah yang semula tak berharga, kini menjadi harta. Lingkungan yang semula gersang, kini menjadi asri. Bahkan perumahan yang disebutkan memiliki sistem pengolahan air bersih berkualitas baik, meski Surabaya Barat rata-rata berair payau.

"Ini merupakan bukti bahwa lingkungan yang rusak, bahkan dianggap tidak berharga, mampu dijadikan berharga melalui desain,” kata Prof. Silas mengakhiri kuliah hari ini.


***
28 Oktober 2015
Kelestarian lingkungan dan sumber dayanya (termasuk air) ternyata dapat diwujudkan manakala arsitek sadar lingkungan. Sudah sepatutnya ia memikirkan bagaimana merancang suatu lingkung bina yang memenuhi kebutuhan hidup masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan menerapkannya, arsitek tidak hanya memenuhi tanggung jawab keprofesiannya, namun juga menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama bertanggung jawab melestarikan lingkungan dan sumber dayanya. Di situlah letak ukur kejayaan seorang arsitek!



Ditulis berdasarkan kuliah Etika Lingkungan (Environmental Ethics)
oleh Prof. Ir. Johan Silas
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Tanggal 11 November 2014

Selasa, 09 September 2014

Preseden : HOTEL PURNAMA, BATU



Kini aku tengah menikmati segala yang tersaji dari balkon lantai dua Hotel Purnama. Hotel ini berada di Batu arah ke Selecta. Fasad depannya khas bangunan tahun 80-an dengan keramik warna terakota, dipermanis kesan hangat dari pendar kuning cahya temaram. Sejauh yang aku ingat, hotel ini tidak banyak mengalami perubahan tampilan fasad sepanjang 21 tahun usiaku. Hanya perubahan kusen yang difinishing menjadi lebih natural, dari yang semula berwarna gelap. Bentuk kusen juga menjadi lebih modern, namun bukan yang berkesan minimalis. Dalam kamusku, ini terasa begitu hommy. Itulah yang aku sukai dari hotel ini. Ia selalu sukses membuatku merasa nyaman dan betah, meski tidak berdandan ‘wah’ laiknya hotel berbintang masa kini. Less is more!

Interior kamarnya pun tetap seperti dulu. Keramik lantai putih berlurik ukuran 30 x 30 cm dengan  paduan wallpaper putih bertekstur yang juga melapisi plafondnya. List plafond kayu bercat kopi susu mempercantik semua itu secara sederhana, namun tetap elegan. Itu belum selesai sampai di sini. Permainan lampu pendar kuning dipadu karpet senada list mempertegas kesan hangat yang ingin disajikan untuk mengimbangi dinginnya udara Kota Batu. Benar-benar cocok bagi siapapun yang ingin mencari kenyamanan dalam masa rehat dan bersantai bersama handai taulan.

Namun, bagi anda para pemuja modernisasi tak perlu risau. Fasilitas-fasilitas di hotel ini sudah banyak mengalami perubahan wajah menjadi lebih modern, seperti restoran dan ruang spa-nya. Permainan geometri dan warna bidang plafond, serta sentuhan material kaca dan kayu sukses membumbui rasa modern natural yang terkecap. Modern biasanya identik dengan kesan angkuh dan individual, namun kemodernan yang ada di sini tercipta atas rangkaian kesan kehangatan dan kebersamaan. Mungkin, pemandangan langsung ke taman yang tertata apik menjadi jawabannya. Aneka bunga, kebun binatang mini, dan alat permainan, dari jungkat-jungkit hingga papan seluncur, memeriahkan suasana lansekap hotel. Yang menarik, di taman Hotel Purnama tersedia papan catur dengan pion berukuran jumbo. Patut dicoba!

Selayaknya hotel bintang 4, di hotel ini juga tersedia aneka fasilitas olah raga, seperti lapangan tenis dan kolam renang. Biasanya, saat adik saya berenang, ibu saya menunggu di salah satu restoran yang terletak di dekat kolam. Dari restoran, ibu bisa langsung mengawasi adik saya. Kolam renang Hotel Purnama dilengkapi dengan seluncur air yang dapat mengakomodasi segala usia.

Satu hal penting lainnya kala menginap di hotel yakni kulinernya. Tidak lengkap rasanya bercerita tanpa menyentil masalah perut. Saya akui, masakan di Hotel Purnama cukup lezat. Satu yang terfavorit dari saya yakni ayam goreng menteganya. Sungguh tiada duanya!

Jadi, tunggu apa lagi?! Tidak ada salahnya anda mencoba untuk menginap di hotel ini. Saya harap, anda dapat merasakan kesenangan yang saya dapatkan. Dari balkon kamar 8234, saya akhiri secuil kisah ini..


Jumat, 04 Juli 2014

Legenda : SALAH SATU RAHASIA KETAHANAN GEMPA BANGUNAN KOLONIAL

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saat mengikuti Heritage Tour House of Sampoerna setahun yang lalu..

Salah satu yang menarik menurut saya yakni destinasi ke gedung PTPN di Surabaya Utara. Peserta tour diperkenankan masuk ke gedung untuk melihat dan mendapat penjelasan langsung dari guide.

Dalam jelajah, mata saya tertuju pada celah-celah yang ada di bangunan. Celah menerus dari plafond, dinding, lantai, bahkan membelah kolom dan balok. Beberapa peserta tour mengira itu adalah celah retak bangunan. Namun setelah saya lihat dari dekat, celah itu begitu rapi. Di situ saya berargumen bahwa celah itu sengaja dibuat dalam pembangunannya.

Ternyata apa yang saya spekulasikan benar adanya. Celah itu merupakan salah satu "rahasia" kekuatan bangunan kolonial terhadap gempa. Untuk mengantisipasi berat dan proporsi bangunan, bangunan sengaja "dipotong" menjadi beberapa bagian. Jadi, setiap bangunan merupakan segmen-segmen yang dijajarkan berdekatan, nampak menyatu, namun sebenarnya terpisah. Pada saat terjadi gempa, kerusakan dapat diminimalisir karena minimalnya sambungan dan beban bangunan yang disalurkan oleh struktur bangunannya.

Rabu, 02 Juli 2014

Sketsa : "JURNAL ILMIAH" PERTAMAKU :)

Kala mengikuti mata kuliah Apresiasi Arsitektur, saya mendapatkan tugas besar (tugas akhir) untuk membuat ulasan mengenai konstruksi bata bidang sudut Gapura Wringin Lawang yang harus disusun dalam format jurnal ilmiah.

Di sini, saya mencoba untuk membuatnya berdasarkan format jurnal ilmiah di IPLBI, sesuai saran dosen saya. Senang sekali rasanya kala mengetahui dosen saya men-share cuplikan karya ini di facebook beliau. Yang paling membahagiakan hati yakni kala melihat siapa yang memberi komentar pada posting tersebut, salah satunya yakni Bapak Eko Prawoto :)

*****

Konstruksi Bata Bidang Sudut Gapura Wringin Lawang

Viola Malta Ramadhani | 3211100076

Mahasiswi Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,  Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Abstrak

Peradaban Majapahit bukanlah sebuah legenda yang tak ada habisnya untuk ditelusuri, salah satunya yakni mengenai peninggalannya. Diantara sekian banyak yang ditemukan yakni Gapura Wringin Lawang yang terletak di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Meski dengan keterbatasan teknologi, bangunan berkontruksi bata merah tersebut masih mampu menunjukkan kedigdayaannya yang tersisa. Diantara beberapa penelitian yang pernah dilakukan, belum ada penelitian yang secara spesifik menjelaskan mengenai kontruksi bata bagian sudut “Candi” Gapura Wringin Lawang. Untuk itu diperlukan suatu metode ilmiah yang dapat menggali secara mendalam mengenai konstruksi bata pada bidang sudut Gapura Wringin Lawang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai konstruksi bata di bidang sudut Gapura Wringin Lawang. Metode yang digunakan yakni metode kualitatif berupa kajian literatur dan survei. Analisis dilakukan dengan mengkaji hasil data survei lapangan, literatur, dan dokumentasi yang ada. Dari hasil analisis diketahui bahwa Gapura Wringin Lawang menggunakan konstruksi batu bata merah yang disambung dengan teknik gosok. Hal tersebut dibuktikan melalui penyelesaian detail konstruksinya (tektonika), khususnya di bidang sudut. Namun, runtuhnya Wringin Lawang membuktikan bahwa bentuk raksasa susunan bata yang berproporsi ramping ternyata tidak terlalu awet.


Kata kunci : Konstruksi batu bata, Candi Wringin Lawang, situs majapahit