Jumat, 04 Juli 2014

Legenda : SALAH SATU RAHASIA KETAHANAN GEMPA BANGUNAN KOLONIAL

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saat mengikuti Heritage Tour House of Sampoerna setahun yang lalu..

Salah satu yang menarik menurut saya yakni destinasi ke gedung PTPN di Surabaya Utara. Peserta tour diperkenankan masuk ke gedung untuk melihat dan mendapat penjelasan langsung dari guide.

Dalam jelajah, mata saya tertuju pada celah-celah yang ada di bangunan. Celah menerus dari plafond, dinding, lantai, bahkan membelah kolom dan balok. Beberapa peserta tour mengira itu adalah celah retak bangunan. Namun setelah saya lihat dari dekat, celah itu begitu rapi. Di situ saya berargumen bahwa celah itu sengaja dibuat dalam pembangunannya.

Ternyata apa yang saya spekulasikan benar adanya. Celah itu merupakan salah satu "rahasia" kekuatan bangunan kolonial terhadap gempa. Untuk mengantisipasi berat dan proporsi bangunan, bangunan sengaja "dipotong" menjadi beberapa bagian. Jadi, setiap bangunan merupakan segmen-segmen yang dijajarkan berdekatan, nampak menyatu, namun sebenarnya terpisah. Pada saat terjadi gempa, kerusakan dapat diminimalisir karena minimalnya sambungan dan beban bangunan yang disalurkan oleh struktur bangunannya.

Rabu, 02 Juli 2014

Sketsa : "JURNAL ILMIAH" PERTAMAKU :)

Kala mengikuti mata kuliah Apresiasi Arsitektur, saya mendapatkan tugas besar (tugas akhir) untuk membuat ulasan mengenai konstruksi bata bidang sudut Gapura Wringin Lawang yang harus disusun dalam format jurnal ilmiah.

Di sini, saya mencoba untuk membuatnya berdasarkan format jurnal ilmiah di IPLBI, sesuai saran dosen saya. Senang sekali rasanya kala mengetahui dosen saya men-share cuplikan karya ini di facebook beliau. Yang paling membahagiakan hati yakni kala melihat siapa yang memberi komentar pada posting tersebut, salah satunya yakni Bapak Eko Prawoto :)

*****

Konstruksi Bata Bidang Sudut Gapura Wringin Lawang

Viola Malta Ramadhani | 3211100076

Mahasiswi Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,  Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Abstrak

Peradaban Majapahit bukanlah sebuah legenda yang tak ada habisnya untuk ditelusuri, salah satunya yakni mengenai peninggalannya. Diantara sekian banyak yang ditemukan yakni Gapura Wringin Lawang yang terletak di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Meski dengan keterbatasan teknologi, bangunan berkontruksi bata merah tersebut masih mampu menunjukkan kedigdayaannya yang tersisa. Diantara beberapa penelitian yang pernah dilakukan, belum ada penelitian yang secara spesifik menjelaskan mengenai kontruksi bata bagian sudut “Candi” Gapura Wringin Lawang. Untuk itu diperlukan suatu metode ilmiah yang dapat menggali secara mendalam mengenai konstruksi bata pada bidang sudut Gapura Wringin Lawang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai konstruksi bata di bidang sudut Gapura Wringin Lawang. Metode yang digunakan yakni metode kualitatif berupa kajian literatur dan survei. Analisis dilakukan dengan mengkaji hasil data survei lapangan, literatur, dan dokumentasi yang ada. Dari hasil analisis diketahui bahwa Gapura Wringin Lawang menggunakan konstruksi batu bata merah yang disambung dengan teknik gosok. Hal tersebut dibuktikan melalui penyelesaian detail konstruksinya (tektonika), khususnya di bidang sudut. Namun, runtuhnya Wringin Lawang membuktikan bahwa bentuk raksasa susunan bata yang berproporsi ramping ternyata tidak terlalu awet.


Kata kunci : Konstruksi batu bata, Candi Wringin Lawang, situs majapahit

Lembar konsep : REPRESENTASI DALAM ARSITEKTUR

Dalam menempuh mata kuliah Arsitektur Tematik, saya berkesempatan mendapat tugas kelompok untuk membahas mengenai "Representasi dalam Arsitektur" dengan pembanding buku "Thinking about Architecture : An Introduction to Architectural Theory" karya Collin Davies. Dalam tugas ini, saya berkelompok dengan Astri Nur Z., Andrew Syah W, dan Biofanda Hutomo P. Berikut merupakan hasil diskusi kami mengenai "Representasi dalam Arsitektur"....

*****

Representasi adalah sesuatu yang diulang kembali dengan kualitas yang berbeda dan sesuai dengan keasliannya, serta sesuatu kegiatan yang disesuaikan dengan konteksnya. Adapun simbol merupakan representasi tertinggi. Tetapi representasi  tidak sama dengan simbol, karena simbol itu sesuai dengan kebenaran yang ada. Di Indonesia, representasi dipahami sebagai sebuah simbol yang representatif (pemikiran arsitektural yang representatif).

Menurut Stuart Hall ada dua proses representasi, diantaranya :
- Pertama, representasi mental, yaitu konsep tentang ‘sesuatu ‘ yang ada dikepala kita masing-
   masing (peta konseptual), representasi mental masih merupakan sesuatu yang abstrak.
      -  Kedua, ‘bahasa’ yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang
        ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam ‘bahasa’ yang lazim, supaya kita dapat
        menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dari simbol-simbol tertentu.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa representasi dalam arsitektur tidak hanya sebagai ide terbatas yang nyata,  melainkan harus dianggap sebagai sebuah proses mendefinisikan diri dengan cara memahami dunia. Sustainable Culture, Architecture, and Nature. Hal ini mengandung konsep penting bahwa arsitektur merupakan hasil dialektika dan keterpaduan antara kebudayaan dan alam, maka kelestarian arsitektur adalah keberlanjutan kebudayaan dan alam sekaligus. Artinya, arsitektur menjadi bermakna dan lestari jika ada dalam harmoni dialektis dengan kebudayaan dan alam. Oleh sebab itulah, arsitektur hendaknya selalu akrab dengan alam dan kebudayaan.

Dalam pengaplikasiannya, representasi juga dapat disesuaikan dengan pengalaman pribadi karena merupakan sesuatu yang berwujud dari sebuah pemahaman yang dihasilkan atau diperoleh secara nyata sebelumnya. Representasi merupakan ungkapan/makna yang berbeda  berdasarkan pada pembelajaran dari suatu pengalaman.

Representasi bekerja pada hubungan tanda dan makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah, selalu ada pemaknaan baru. Representasi berubah-ubah akibat makna yang juga berubah-ubah. Setiap waktu terjadi proses negoisasi dalam pemaknaan. Secara umum representasi dapat diartikan sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan, konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan.

John Fiske merumuskan tiga proses yang terjadi dalam representasi yaitu Realitas, Representasi, dan Ideologi:
-      Pertama, realitas dalam proses ini peristiwa atau ide dikonstruksi sebagai realitas oleh media dalam bentuk bahasa gambar ini umumnya berhubungan dengan aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan ekspresi dan lain-lain. Di sini realitas selalu siap ditandakan.
-         Kedua, representasi dalam proses ini realitas digambarkan dalam perangkat-perangkat teknis seperti bahasa tulis, gambar, grafik, animasi, dan lainlain.
-    Ketiga, tahap ideologis dalam proses ini peristiwa-peristiwa dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis.


Tujuan representasi yakni untuk mengkomunikasikan ide yang menunjukkan proses berpikir dan desain. Maka, representasi arsitektur akan menjadi beragam. Oleh karena itu, representasi sebagai wakil dalam arsitektur apabila objeknya lebih dari satu dan juga dapat dilihat/ divisualisasikan secara langsung, serta dapat mewakili keseluruhan dari yang ada. Representasi sebagai imej/ gambar dalam arsitektur apabila objek yang pernah kita ketahui dan yang berdasar pada pengalaman-pengalaman pribadi dimana hal tersebut bersifat tunggal. Representasi sebagai citra dalam arsitektur apabila suatu objek menjelaskan dan dapat diketahui sebagai mana fungsi dan kegunaannya pada objek tersebut tanpa bertanya-tanya apakah itu bangunan? Apakah fungsi bangunan itu ataukah bertanya-tanya dan blm ada kepastian tentang bangunan itu. Secara gambling, bangunannya dapat memberikan penjelasan kepada orang lain. Tanpa harus bertanya.