Senin, 04 Maret 2013

Lembar konsep : PENGANTAR ARSITEKTUR NUSANTARA


-      Arsitektur  --> manusia dengan lingkungan  --> membentuk suatu relasi.

“Tidak ada arsitektur yang tidak berada di suatu tempat di muka bumi ini.” Petak di muka bumi tidak hanya daratan, namun juga lautan. Petak bumi harus dipertimbangkan dalam suatu arsitektur. Pemahaman mengenai Arsitektur Indonesia muncul karena arsitektur berada di petak bumi. Selain itu, sekolah arsitektur di Indonesia menganut paham internasionalisme/universalisme yang tidak menempatkan petak bumi sebagai kepastian.
 Indonesia memiliki perairan yang lebih luas dibanding daratannya. Berbeda dengan daerah Eropa dan Amerika yang memiliki luas daratan yang lebih luas dari perairannya. Oleh karena itu, secara logika bangunan-bangunan besar lebih cocok dibangun di Amerika, bukan di Indonesia. Karakter bangunan yang cocok dibangun di Indonesia yakni bangunan tinggi, contohnya bangunan rumah adat.

-          Indonesia merupakan bangsa bahari --> berkelana.
 
Lautan dapat menjadi pemisah, maupun penghubung antar pulau, khususnya di Indonesia. Hal tersebut tergantung dari bagaimana kita memandang peran sebuah lautan. Pandangan mengenai lautan sebagai pemisah pulau memiliki konsekuensi dimana tiap pulau tidak saling mengenal. Hal ini menyebabkan etnik demi etnik bersifat eksklusif. Sedangkan pandangan mengenai lautan sebagai penghubung antar pulau memberikan konsekuesi pemahaman bangsa Indonesia secara utuh dimana tidak adanya suku yang terisolir dan mengisolir diri sendiri.
Perbedaan arsitektur di nusantara (berbagai macam etnik) dimaksudkan sebagai identitas wilayah yang menjadi penanda wilayah. Peranannya sebagai penanda wilayah tak ubahnya sebuah “papan nama” penunjuk wilayah. Kesan ini dapat dirasakan saat melihat sesuatu tampilan bangunan yang berbeda di tiap wilayah. Dengan adanya perbedaan arsitektur dan etniknya, suatu etnik dapat mengenali etnik lainnya dengan mudah.
Sebuah arsitektur harus berada di suatu tempat tertentu. Meskipun berbagai rumah adat ada di Indonesia, namun semua yang dimiliki merupakan bukti ke-bhinneka-ika-an Arsitektur Indonesia. Karakteristik rumah adat nusantara yang khas menunjukkan adanya benang merah arsitektur yang ada di Indonesia.
Dalam ke-Indonesia-an, prinsip berpikirnya yakni bhinneka tunggal ika. Jadi, tiap karya arsitektur anak bangsa adalah Arsiektur Indonesia.[1]

-          Keterangan konsekuensi iklim : 4 musim (musim dingin yang membunuh) dan
2 iklim (panas, gerah, silau, hujan)

Iklim 2 musim memungkinkan adanya suatu harmoni antara iklim dengan alam tanpa harus menghindari atau melawan iklim tersebut. Sedangkan pada iklim 4 musim, terjadi suatu perlawanan untuk menghindari iklim agar dapat bertahan hidup.

Tabel perbandingan karakteristik arsitektur 4 musim dan 2 musim :

4 MUSIM
2 MUSIM
-          Winter
-          Dry (hot)
-          Isolated from nature
-          Berselimut alam
-          Interiority
-          Exteriority
-          Protection
-          Pernaungan
-          Bangunan merupakan tempat berlindung
-          Bangunan merupakan tempat pernaungan
-          Denah >> Dinding >> Atap
-          Atap >>  Luas tempat bernaung


-          Memanfaatkan angin dari samping dan bawah bangunan (contoh : Rumah Panggung)
-          Memanfaatkan daerah bayangan
-          Dinding dibuat berlubang, dibuat bukan untuk melindungi namun untuk menyaring silau. Selain itu juga berfungsi sebagai “filter” kecepatan angin.
-          Analogi bangunan : baju
-          Analogi bangunan : payung, kaca mata hitam
-          Komponen bangunan yang dibutuhkan :
Lantai, dinding, atap
-          Komponen bangunan yang dibutuhkan :
Geladak, Atap

Tipologi Indische Huis :
1.       Ada angin-angin di atas dan di bawah.
2.       Meski merupakan bangunan batu, namun
tetap memperhatikan tipologi alam Indonesia.
  
-          Bagaimana dengan banjir di masa lalu? Apa dampaknya terhadap bangunan yang ada?        

Jawab : Jaman dahulu tidak ada banjir. Hal ini dikarenakan tidak adanya pembabatan hutan. Selain itu, tidak akan diperkenankan adanya pembangunan rumah di samping sungai, kecuali dengan batas tertentu. Sedangkan untuk anatomi bangunan, dibangunlah geladak sebagai antisipasi terhadap “becek”.

-          Pemanfaatan ruang berdasarkan waktu --> efisiensi fungsi dan luas ruang.

Hal ini merupakan suatu prinsip memanfaatkan ruang bayangan pada rumah adat di daerah yang beriklim 2 musim.

-          Kenyamanan tubuh tidak sama dengan kenyamanan ruangan.

Oleh karena itu, tipikal ruangan di 2 musim yakni ruangan yang gelap karena tidak dipakai beraktivitas kecuali untuk tidur. Selain pada malam hari, segala aktivitas dilakukan di luar ruangan. Ruangan hanya dipakai untuk menyimpan bahan makanan dan benda pusaka, serta untuk kamar tidur bagi para wanita (lebih diutamakan dibanding pria).
Adanya perapian di rumah adat berfungsi untuk menghangatkan di malam hari. Namun, yang utama yakni asap pembakaran difungsikan untuk mengawetkan bahan (material) rumah adat.
-          Arsitektur Indonesia silam = Arsitektur Nusantara

Ada juga daerah yang memiliki perbedaan bahasa namun sama dalam arsitekturnya. Contohnya yaitu daerah Sumba yang memiliki minimal 9 bahasa daerah, namun hanya memiliki 1 arsitektur yakni Arsitektur Uma.
Dulu, konsep hunian adalah “Rumah dalam Kebun” dimana pepohonan berfungsi untuk mengurangi kecepatan angin dan filtrasi silau. Sedangkan untuk antisipasi kelembaban dan lumpur, dibuatlah konsep rumah panggung.
Nusantara merupakan daerah yang akrab gempa. Adapun solusi adaptatif yang dilakukan pada bangunan adat adalah :
1.       Tiang di tanam                            
2.       Tiang ditumpang di atas umpak
Prinsipnya, bangunan tidak diikat dengan tanah, melainkan hanya ditumpang pada tiang. Sedangkan pada arsitektur 4 musim terdapat pondasi untuk mengurangi dingin yang ada. Pondasi berperan mengikat hangat agar dinginnya tanah tidak langsung menyentuh lantai. Bahkan, lantai juga akan dilapisi permadani untuk menambah penghangatan.


***


“Pendayagunaan maksimal dari iklim adalah: pertama menampung secara maksimal
bayangan (payung); dan kedua mengoptimalkan angin; sedang yang ketiga menari bersama gempa.”
-Prof. Dr. Ir. Josef P., M.Arch-


[1] Sumber : Kuliah Arsitektur Barat & Asia ; Kuliah Asas Perancangan oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M. Arch


Kuliah ARSITEKTUR INDONESIA
oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.Arch
tanggal 18 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar