- Arsitektur --> manusia dengan lingkungan --> membentuk suatu relasi.
“Tidak
ada arsitektur yang tidak berada di suatu tempat di muka bumi ini.” Petak di
muka bumi tidak hanya daratan, namun juga lautan. Petak bumi harus dipertimbangkan
dalam suatu arsitektur. Pemahaman mengenai Arsitektur Indonesia muncul karena
arsitektur berada di petak bumi. Selain itu, sekolah arsitektur di Indonesia
menganut paham internasionalisme/universalisme yang tidak menempatkan petak
bumi sebagai kepastian.
Indonesia memiliki perairan yang lebih luas
dibanding daratannya. Berbeda dengan daerah Eropa dan Amerika yang memiliki
luas daratan yang lebih luas dari perairannya. Oleh karena itu, secara logika
bangunan-bangunan besar lebih cocok dibangun di Amerika, bukan di Indonesia.
Karakter bangunan yang cocok dibangun di Indonesia yakni bangunan tinggi,
contohnya bangunan rumah adat.
-
Indonesia
merupakan bangsa bahari --> berkelana.
Lautan
dapat menjadi pemisah, maupun penghubung antar pulau, khususnya di Indonesia. Hal
tersebut tergantung dari bagaimana kita memandang peran sebuah lautan.
Pandangan mengenai lautan sebagai pemisah pulau memiliki konsekuensi dimana
tiap pulau tidak saling mengenal. Hal ini menyebabkan etnik demi etnik bersifat
eksklusif. Sedangkan pandangan mengenai lautan sebagai penghubung antar pulau
memberikan konsekuesi pemahaman bangsa Indonesia secara utuh dimana tidak
adanya suku yang terisolir dan mengisolir diri sendiri.
Perbedaan arsitektur di nusantara (berbagai macam
etnik) dimaksudkan sebagai identitas wilayah yang menjadi penanda wilayah.
Peranannya sebagai penanda wilayah tak ubahnya sebuah “papan nama” penunjuk
wilayah. Kesan ini dapat dirasakan saat melihat sesuatu tampilan bangunan yang
berbeda di tiap wilayah. Dengan adanya perbedaan arsitektur dan etniknya, suatu
etnik dapat mengenali etnik lainnya dengan mudah.
Sebuah
arsitektur harus berada di suatu tempat tertentu. Meskipun berbagai rumah adat
ada di Indonesia, namun semua yang dimiliki merupakan bukti ke-bhinneka-ika-an
Arsitektur Indonesia. Karakteristik rumah adat nusantara yang khas menunjukkan
adanya benang merah arsitektur yang ada di Indonesia.
Dalam
ke-Indonesia-an, prinsip berpikirnya yakni bhinneka tunggal ika. Jadi, tiap
karya arsitektur anak bangsa adalah Arsiektur Indonesia.[1]
-
Keterangan
konsekuensi iklim : 4 musim (musim dingin yang membunuh) dan
2
iklim (panas, gerah, silau, hujan)
Iklim
2 musim memungkinkan adanya suatu harmoni antara iklim dengan alam tanpa harus
menghindari atau melawan iklim tersebut. Sedangkan pada iklim 4 musim, terjadi
suatu perlawanan untuk menghindari iklim agar dapat bertahan hidup.
Tabel
perbandingan karakteristik arsitektur 4 musim dan 2 musim :
4
MUSIM
|
2
MUSIM
|
-
Winter
|
-
Dry
(hot)
|
-
Isolated
from nature
|
-
Berselimut alam
|
-
Interiority
|
-
Exteriority
|
-
Protection
|
-
Pernaungan
|
-
Bangunan merupakan tempat berlindung
|
-
Bangunan merupakan tempat pernaungan
|
-
Denah >>
Dinding >>
Atap
|
-
Atap >>
Luas tempat bernaung
|
-
Memanfaatkan angin dari samping dan
bawah bangunan (contoh : Rumah Panggung)
|
|
-
Memanfaatkan daerah bayangan
|
|
-
Dinding dibuat berlubang, dibuat
bukan untuk melindungi namun untuk menyaring silau. Selain itu juga berfungsi
sebagai “filter” kecepatan angin.
|
|
-
Analogi bangunan : baju
|
-
Analogi bangunan : payung, kaca mata
hitam
|
-
Komponen bangunan yang dibutuhkan :
Lantai, dinding, atap
|
-
Komponen bangunan yang dibutuhkan :
Geladak, Atap
|
Tipologi Indische Huis :
1.
Ada angin-angin di atas dan di bawah.
2.
Meski merupakan bangunan batu, namun
tetap memperhatikan tipologi alam Indonesia.
-
Bagaimana
dengan banjir di masa lalu? Apa dampaknya terhadap bangunan yang ada?
Jawab : Jaman dahulu tidak
ada banjir. Hal ini dikarenakan tidak adanya pembabatan hutan. Selain itu,
tidak akan diperkenankan adanya pembangunan rumah di samping sungai, kecuali
dengan batas tertentu. Sedangkan untuk anatomi bangunan, dibangunlah geladak
sebagai antisipasi terhadap “becek”.
-
Pemanfaatan
ruang berdasarkan waktu --> efisiensi fungsi dan luas ruang.
Hal
ini merupakan suatu prinsip memanfaatkan ruang bayangan pada rumah adat di
daerah yang beriklim 2 musim.
-
Kenyamanan
tubuh tidak sama dengan kenyamanan ruangan.
Oleh
karena itu, tipikal ruangan di 2 musim yakni ruangan yang gelap karena tidak
dipakai beraktivitas kecuali untuk tidur. Selain pada malam hari, segala
aktivitas dilakukan di luar ruangan. Ruangan hanya dipakai untuk menyimpan
bahan makanan dan benda pusaka, serta untuk kamar tidur bagi para wanita (lebih
diutamakan dibanding pria).
Adanya
perapian di rumah adat berfungsi untuk menghangatkan di malam hari. Namun, yang
utama yakni asap pembakaran difungsikan untuk mengawetkan bahan (material)
rumah adat.
-
Arsitektur
Indonesia silam = Arsitektur Nusantara
Ada juga daerah yang memiliki perbedaan bahasa namun
sama dalam arsitekturnya. Contohnya yaitu daerah Sumba yang memiliki minimal 9
bahasa daerah, namun hanya memiliki 1 arsitektur yakni Arsitektur Uma.
Dulu, konsep hunian adalah “Rumah dalam Kebun” dimana
pepohonan berfungsi untuk mengurangi kecepatan angin dan filtrasi silau.
Sedangkan untuk antisipasi kelembaban dan lumpur, dibuatlah konsep rumah
panggung.
Nusantara merupakan daerah yang akrab gempa. Adapun
solusi adaptatif yang dilakukan pada bangunan adat adalah :
1.
Tiang di tanam
2.
Tiang ditumpang di atas umpak
Prinsipnya, bangunan tidak
diikat dengan tanah, melainkan hanya ditumpang pada tiang. Sedangkan pada
arsitektur 4 musim terdapat pondasi untuk mengurangi dingin yang ada. Pondasi
berperan mengikat hangat agar dinginnya tanah tidak langsung menyentuh lantai.
Bahkan, lantai juga akan dilapisi permadani untuk menambah penghangatan.
***
“Pendayagunaan
maksimal dari iklim adalah: pertama menampung secara maksimal
bayangan
(payung); dan kedua mengoptimalkan angin; sedang yang ketiga menari bersama
gempa.”
-Prof.
Dr. Ir. Josef P., M.Arch-
[1]
Sumber : Kuliah Arsitektur Barat & Asia ; Kuliah Asas Perancangan oleh
Prof. Dr. Ir. Josef P., M. Arch
Kuliah ARSITEKTUR INDONESIA
oleh Prof. Dr. Ir. Josef P., M.Arch
tanggal 18 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar