Dalam menempuh mata kuliah Arsitektur Tematik, saya berkesempatan mendapat tugas kelompok untuk membahas mengenai "Representasi dalam Arsitektur" dengan pembanding buku "Thinking about Architecture : An Introduction to Architectural Theory" karya Collin Davies. Dalam tugas ini, saya berkelompok dengan Astri Nur Z., Andrew Syah W, dan Biofanda Hutomo P. Berikut merupakan hasil diskusi kami mengenai "Representasi dalam Arsitektur"....
*****
Representasi
adalah sesuatu yang diulang kembali
dengan kualitas yang berbeda dan sesuai dengan keasliannya, serta sesuatu
kegiatan yang disesuaikan dengan konteksnya. Adapun simbol merupakan
representasi tertinggi. Tetapi representasi tidak sama dengan
simbol, karena simbol itu sesuai dengan kebenaran yang ada. Di Indonesia, representasi dipahami sebagai sebuah simbol
yang representatif (pemikiran arsitektural yang representatif).
Menurut
Stuart Hall ada dua proses
representasi, diantaranya :
- Pertama,
representasi mental, yaitu konsep tentang ‘sesuatu ‘ yang ada dikepala
kita masing-
masing (peta konseptual),
representasi mental masih merupakan sesuatu yang abstrak.
- Kedua, ‘bahasa’
yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang
ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam ‘bahasa’ yang lazim, supaya
kita dapat
menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda
dari simbol-simbol tertentu.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa
representasi dalam arsitektur tidak hanya sebagai ide terbatas yang
nyata, melainkan harus dianggap sebagai sebuah proses mendefinisikan diri
dengan cara memahami dunia. Sustainable Culture, Architecture, and Nature. Hal ini mengandung konsep penting bahwa arsitektur merupakan hasil dialektika dan keterpaduan antara kebudayaan dan alam, maka kelestarian arsitektur adalah keberlanjutan kebudayaan dan alam sekaligus. Artinya, arsitektur menjadi bermakna dan lestari jika ada dalam harmoni dialektis dengan kebudayaan dan alam. Oleh sebab itulah, arsitektur hendaknya selalu akrab dengan alam dan kebudayaan.
Dalam pengaplikasiannya, representasi juga
dapat disesuaikan dengan pengalaman pribadi karena merupakan sesuatu yang
berwujud dari sebuah pemahaman yang dihasilkan atau diperoleh secara nyata
sebelumnya. Representasi
merupakan ungkapan/makna yang berbeda berdasarkan pada pembelajaran dari
suatu pengalaman.
Representasi bekerja pada hubungan tanda dan
makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah, selalu ada pemaknaan
baru. Representasi berubah-ubah akibat makna yang juga berubah-ubah.
Setiap waktu terjadi proses negoisasi dalam pemaknaan. Secara umum representasi dapat diartikan sebuah cara dimana memaknai apa
yang diberikan pada benda yang digambarkan, konsep lama mengenai representasi
ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan
perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang
sebenarnya digambarkan.
John Fiske merumuskan tiga proses yang terjadi dalam
representasi yaitu Realitas, Representasi, dan Ideologi:
- Pertama,
realitas dalam proses ini peristiwa atau ide dikonstruksi sebagai
realitas oleh media dalam bentuk bahasa gambar ini umumnya berhubungan dengan
aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan ekspresi dan lain-lain. Di sini
realitas selalu siap ditandakan.
- Kedua,
representasi dalam proses ini realitas digambarkan dalam
perangkat-perangkat teknis seperti bahasa tulis, gambar, grafik, animasi, dan
lainlain.
- Ketiga, tahap
ideologis dalam proses ini peristiwa-peristiwa dihubungkan dan
diorganisasikan ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis.
Tujuan
representasi yakni untuk mengkomunikasikan ide yang menunjukkan proses
berpikir dan desain. Maka, representasi arsitektur akan menjadi beragam. Oleh
karena itu, representasi sebagai wakil
dalam arsitektur apabila objeknya lebih dari satu dan juga dapat dilihat/
divisualisasikan secara langsung, serta dapat mewakili keseluruhan dari yang
ada. Representasi sebagai imej/ gambar dalam arsitektur apabila objek yang
pernah kita ketahui dan yang berdasar pada pengalaman-pengalaman pribadi dimana
hal tersebut bersifat tunggal. Representasi sebagai citra dalam arsitektur
apabila suatu objek menjelaskan dan dapat diketahui sebagai mana fungsi dan
kegunaannya pada objek tersebut tanpa bertanya-tanya apakah itu bangunan?
Apakah fungsi bangunan itu ataukah bertanya-tanya dan blm ada kepastian tentang
bangunan itu. Secara gambling, bangunannya dapat memberikan penjelasan kepada
orang lain. Tanpa harus bertanya.